Bleach XX: Antithesis
Fanfiction: Aditya Ramdhani | Chapter: 678
“Saksikanlah... Ichigo Kurosaki. Karunia dan keagungan tuhan yang sebenarnya!” suara bergema terdengar seperti Yhwach yang bangkit dari kematiannya. Begitu mencekam membuat Ichigo, Inoue, dan Ishida kesulitan menelan ludah, tidak percaya bahwa Yhwach dapat bangkit kembali.
“Takdir memang selalu seperti
ini... Jangan terkejut.” ucap Yhwach yang tubuhnya sedang terbentuk. Tidak
disangka bagian tengah yang terpotong habis bisa membentuk dan menyatu lagi,
membuat Yhwach sehat seperti semula.
Ichigo yang berfikir Yhwach lengah karena sedang berusaha hidup kembali pun langsung berlari ke arahnya dengan cepat, berharap dapat mengakhirinya langsung. Gerakan Ichigo sangat gegabah. Hatinya berisikan campuran antara perasaan gugup dan khawatir. Dia telah menghabiskan semua tenaganya untuk Mangetsutensho, jika serangan besar seperti itu tidak dapat mengakhirinya, lalu apa yang dapat mengakhiri Yhwach?
“Yhwach...! Bagaimana kau bisa hidup kembali!?” ucap Ichigo sambil lari ke arah Yhwach, memegang Tensa Zangetsu dengan kedua lenganny beraba-aba untuk menyerang.
“Tidak usah terkejut, Ichigo Kurosaki. Sudah semestinya tuhan tidak terkalahkan.” jawab Yhwach mengangkat tangannya ke arah Ichigo.
Reiatsu Yhwach makin banyak muncul
dari bawah tanah, menutup jalan Ichigo ke arah Yhwach. Tidak lama kemudian reiatsu
itu menyerang ke arah Ichigo yang sedang bimbang, melukainya sedikit demi
sedikit. Bagian pipi, dagu, pundak, badan, kaki Ichigo terkena reiatsu panas
dari Yhwach, memberikan luka bakar yang serius, juga menyerap reiatsu
Ichigo.
Ichigo
semakin kewalahan, dia tidak bisa menghindari semua serangan Yhwach karena
jumlahnya terlalu banyak. Tidak ada pilihan lain selain mundur dan mereposisi.
“Kurosaki! Jangan gegabah!” teriak
Ishida yang mengingatkan Ichigo karena terlalu gegabah.
Ichigo
terdesak. Semakin banyak reiatsu Yhwach yang muncul dari bawah tanah.
Ketika berusaha mundur pula, Ichigo telah terjebak oleh reiatsu Yhwach.
Ichigo terkepung dari segala sisi, tidak bisa lari kemana-mana.
Situasi
ini bisa diatasi dengan getsugatensho untuk menerobos keluar, namun
Ichigo terlalu ceroboh. Dia tidak menyadari bahwa staminanya sudah tidak cukup
untuk bertarung, bahkan untuk getsugatensho sekalipun. Dalam kondisi ini
Ichigo terlihat semakin panik dan tidak tahu harus melakukan apa.
“Sial...!” ucap Ichigo.
Reiatsu Yhwach yang sudah mengepung
Ichigo langsung menyerangnya. Dari segala sisi Ichigo dapat diserang, tidak ada
celah sedikitpun. Ichigo sudah dipastikan tewas, terbakar akan reiatsu
Yhwach yang pekat. Namun...
“Licht Regen!”
Ratusan
panah ditembakkan ke arah reiatsu Yhwach yang membendungi Ichigo,
membuat kurungan tersebut pecah menyebar.
“Kurosaki!”
Ichigo
yang mendengar suara Ishida seketika mundur dari kepungan reiatsu Yhwach.
“Ishida... Aku terbawa emosi...”
“Jangan ulangi kegegabahanmu, kita harus memikirkan sebuah rencana dulu untuk mengalahkannya.” jawab Ishida.
Reiatsu yang terpecah tadi kemudian
kembali kepada Yhwach. Menampakkan Yhwach yang sudah pulih utuh dari lukanya.
“Ishida Uryu... Menandakan
Jugram telah kalah di tanganmu.” ucap Yhwach kepada Ishida.
“Kau yang membunuh bawahanmu,
Yhwach.” jawab Ishida.
“Anak-anak akan rela berkorban demi
orang tuanya, begitupun sebaliknya. Takdir para strernritters memang
sudah seperti ini, Ishida. Kaupun juga seharusnya berkorban kepadaku.” Yhwach
menjawab.
“Omong kosong. Dengan penglihatan
Almighty-mu seharusnya kau sudah tahu aku berniatan mengkhianatimu, Yhwach.”
“Tentu aku tahu, tapi bukan karena
Almighty. Dengan dirimu yang tidak terpengaruh Aushwalen, takdirmu juga tidak
bisa aku prediksi. Kau dengan Ichigo saat ini tidak bisa terpengaruh Almighty,
benar-benar pasangan yang unik.” puji Yhwach. “Mungkin cara yang paling masuk
akal adalah aku mati dengan kalian berdua, anak-anak tercintaku.” lanjutnya.
“Apa maksudmu, Yhwach?” tanya Ichigo.
“Bankaimu, Kurosaki. Kemungkinan
memiliki kekuatan untuk menetralisir Almighty-nya.” jawab Ishida. “Sama dengan
darah unikku yang netral terhadap Aushwalen, kemungkinan milikmu juga begitu.”
jelasnya.
“Intinya adalah hanya kita yang
bisa mengalahkannya, bukan begitu?” ucap Ichigo.
Ishida
tersenyum, dia melihat kembali rekan lamanya yang optimis terhadap
kemampuannya. Tak lama kemudian mereka tengah bersiap untuk pertarungan
selanjutnya melawan Yhwach. Tidak tahu apa yang Yhwach akan lakukan tanpa adanya
Almighty yang dapat digunakan, Ichigo dan Ishida selalu bersiap waspada.
“Mari kita selesaikan ini, Ishida!”
ucap Ichigo bersemangat.
“Ayo! Kurosaki!” jawab Ishida.
Inoue
sangat senang bisa melihat dua temannya kembali bekerjasama. Kejadian ini mengingatkan
Inoue terhadap segala sesuatu yang pernah dialaminya. Pertarungan dengan hollow,
shinigami, espada, dan saat ini quincy. Dengan tekad
Ichigo dan Ishida yang kembali bangun, membuat Inoue juga bersemangat untuk
membantu mereka berdua dalam pertarungan terakhirnya.
“Reiatsunya akan kuhalangi
dengan Santen Kesshun. Kalian berhati-hatilah mendatangi Yhwach!”
“Terima kasih, Inoue. Tahanlah reiatsu
itu sebisa mungkin. Kami membutuhkan pertolonganmu.” jawab Ichigo berterima
kasih kepada Inoue.
Ichigo
dan Ishida mulai maju ke hadapan Yhwach. Reiatsu-reiatsu Yhwach
yang menyerang berhasil dibelokkan oleh Santen Kesshun Inoue, memberikan
Ichigo dan Ishida jalan.
“Kemarilah, anak-anakku!” Yhwach
membentuk pedang reishi berwarna biru. “Tangan dengan tangan, pedang
dengan pedang. Akan kubentuk kedamaian dengan pedangku ini, mungkin takdirku
tidaklah menghabisi kalian dengan Almighty!” lanjut Yhwach.
Kemudian
Ichigo menebas ke arah Yhwach, membuat bentrok dengan pedang reishi Yhwach.
Kekuatan dari keduanya sama besar, mereka seimbang dalam beradu kekuatan.
Ichigo
mendorong pedangnya dengan penuh kekuatan, membuat Yhwach terdorong sedikit ke
belakang. Ishida kemudian berpindah dan menembakkan Heilig Pfeil ke arah
Yhwach.
“Takdirku adalah... Tidak berada di
sini.” ucap Yhwach yang kemudian menghilang dari hadapan Ichigo dan Yhwach.
Ichigo yang melihat Heilig Pfeil Ishida mengarah padanya kemudian melompat. Seketika Yhwach berpindah ke belakang Ichigo dan menusuk pinggangnya dari belakang.
“Tch! Bahkan saat di udara juga...” Ichigo tertusuk.
Yhwach
melepas tusukannya dan menebas Ichigo hingga jatuh kuat ke tanah. Ishida yang
lagi-lagi berpindah tempat kali ini menyerang Yhwach dengan Licht Regen,
ratusan panah reishi yang beruntun. Dengan mudahnya Yhwach berpindah-pindah
tempat dengan Almighty-nya.
“Sial! Licht Regen tidak
mengenainya. Sangat sulit ketika dia terus berpindah tempat.” ucap Ishida.
Yhwach
secara spontan berpindah ke belakang Ishida dan menebasnya, memberikan luka
yang cukup parah kepada Ishida, juga membuatnya terjatuh.
“An-tithesis...!” dalam keadaan
terjatuh Ishida mengaktifkan Schriftnya, menyebabkan luka yang diterimanya
berpindah pada Yhwach.
“Tak kusangka kau menyerangku
dengan kekuatan yang kuberikan, Ishida!” Yhwach menerima tebasan dari luka
Ishida yang dipindahkan ke tubuhnya.
Ichigo
yang melihat celah langsung mengejar Yhwach di udara, memberinya serangan gabungan
dengan getsugatensho.
“Getsuga- Tensho!” Ichigo
menyelimuti pedangnya dengan getsugatensho biasa.
Yhwach
yang sedang lengah telat menyadari Ichigo yang datang mengejarnya. Tidak sempat
berlindung dengan pedang reishi maupun blut vene, Yhwach bertahan
menggunakan reiatsu di sekitarnya. Jumlahnya sedikit dan tipis yang
kemudian Ichigo tembus dan memotong habis lengan kiri Yhwach. Tensa Zangetsu
diputar dan dilanjutkan dengan tebasan ke arah Yhwach. Sayangnya momen ini telah
dipegang oleh Yhwach. Tebasan kedua Ichigo berhasil ditahan oleh pedang reishi
Yhwach, lagi-lagi menyebabkan beradu kekuatan.
Ketika
beradu pedang, Yhwach menambahkan intensitas reiatsunya pada pedang reishi,
meningkatkan daya serang pada pedangnya. Dengan tekanan yang lebih besar,
Ichigo kalah dalam adu kekuatan dan terpental jauh.
Dikarenakan
tambahan intensitas reiatsu tadi,
pedang reishi Yhwach berubah warna menjadi hitam pekat, membentuk simbol
silang Wandenreich yang lebih lancip ujungnya.
“Berapa lama kau bisa menahan wujud
Horn of Salvation-mu, Ichigo?” ucap Yhwach.
Ichigo baru menyadari tanduknya telah patah. Saat Yhwach memukul mundur Ichigo, reiatsu Yhwach mematahkan tanduk Horn of Salvation milik Ichigo.
“Dengan begini wujud merepotkanmu telah berakhir. Selanjutnya adalah bankaimu, Ichigo Kurosaki!” sebut Yhwach.
Ketika
tanduk dari Horn of Salvation patah, kekuatannya akan hilang drastis,
melepaskan perubahan Ichigo menjadi ke bentuk semula. Selain itu Horn of
Salvation tidak
mudah untuk diaktifkan kembali. Dibutuhkan banyak sekali tenaga dan reiatsu untuk
menyeimbangkan kekuatan hollow dan quincy lagi.
Selama
Yhwach bertarung dengan Ichigo, Ishida menyiapkan perangkap Ginto: Sprenger
di permukaan. Dengan lima Seele Schneider membentuk pentagon, Ishida
tinggal menerangkap Yhwach ke permukaan dan membakarnya dengan ledakan reiatsu
Sprenger.
Dengan
tujuan menjatuhkan Yhwach ke permukaan, Ishida berpindah tempat ke atas Yhwach,
memberikannya tembakan ratusan lebih anak panah, Licht Regen kepada
Yhwach. Yhwach yang kemudian terdesak terpaksa untuk turun ke permukaan.
“!?” Kaki Yhwach terjebak di
permukaan, tidak bisa bergerak. Dia benar-benar sudah masuk ke dalam Sprenger
dari Ishida.
“Kau benar-benar menjebakku dengan
perangkap quincy, Ishida?” ucap Yhwach.
“Aku tahu ini tidak akan melukaimu
sedikitpun, tapi cobalah untuk bertahan, Yhwach.” ucap Ishida sembari
menjatuhkan carian reishi untuk mengaktifkan Sprenger.
“Ginto. Sprenger.” *WUSHH!*
Ledakan reiatsu yang besar terjadi, membakar Yhwach di tengah. Ledakan
membesar hingga ke ujung pentagon, ini adalah daya serang yang sesungguhnya
dari Sprenger. Namun bagi Yhwach, jebakan seperti ini hanyalah kekuatan
kecil yang dapat dia serap kapanpun.
“Kau lebih dari ini, Ishida Uryu.”
ucap Yhwach yang tidak terluka walaupun terbakar reishi Sprenger. Malah,
Yhwach menyerap semua ledakannya, begitu juga dengan Seele Schneider di
sekitarnya.
(Dia menyerapnya, kali ini tinggal
menunggu Kurosaki untuk menjalankan rencanaku.) dengung Ishida dari dalam hati.
Ishida memang sengaja membuat Yhwach menyerap Sprenger miliknya.
Kemungkinan sprenger tadi sudah dicampuri dengan sesuatu. Sesuatu yang
dapat membalikkan regenerasi Almighty.
Lalu
datang dari barat daya-
“Getsugatensho!”
Getsugatensho hitam ditembakkan ketika
Yhwach sedang menyerap Sprenger. Yhwach kemudian menggunakan Reiatsunya
untuk menahan getsugatensho Ichigo. Dikarenakan Horn of Salvation
yang telah hilang, getsugatensho miliki Ichigo sangat tidak berarti.
Ditambah tidak adanya gran ray cero, getsuga miliknya mudah dipecah oleh
kumpulan reiatsu Yhwach.
“Belum berakhir!” Ichigo melesat ke
arah Yhwach sambil memegang pedangnya yang dilapisi getsuga lain.
Menabrak reiatsu Yhwach yang tebal dan menebasnya.
Terpecahlah
pertahanan reiatsu Yhwach, memperlihatkan Yhwach yang sudah
mempersiapkan Sankt Bogen miliknya. Ichigo terkejut melihat ukuran
busurnya yang besar. Menjelang beberapa detik, Yhwach menembakkan Heilig
Pfeil pada Ichigo.
Ichigo
berusaha bertahan dengan bankainya, namun Heilig Pfeil Yhwach
terlalu kuat dan besar untuk ditahan. Yang kemudian mementalkan Ichigo lebih
jauh lagi dari hadapan Yhwach.
“Serangan-serangan yang tidak
berarti. Aku mengharapkan yang lebih dari kalian, mungkin ekspektasiku terlalu
tinggi.” ucap Yhwach kecewa.
Ishida
yang melihat kesempatan kemudian menembakkan Licht Regen dari segala
arah sambil berpindah tempat. Menutup segala jalan Yhwach untuk keluar dari lingkup
serang Ishida. Yhwach tanpa sedikitpun rasa khawatir lagi-lagi tinggal berpindah
tempat ke belakang Ishida.
“Kena kau!” Ishida spontan menolah
ke belakang, melihat Yhwach yang berada di belakangnya bersiap untuk menyerang.
Ishida
yang telah mengumpulkan energi kemudian menembakkan anak panahnya.
“Licht Regen Platzen!”
*WUSHH!* Ratusan ribu anak panah ditembakkan ke arah Yhwach. Karena banyaknya
anak panah yang ditembakkan, bentuknya berubah menyerupai cero berwarna
biru. Pula bentuk Licht Regen Platzen ini adalah bentuk yang lebih kuat
dibanding Licht Regen biasanya dikarenakan masing-masing anak panah
memiliki kepekatan reiatsu yang lebih tinggi.
Yhwach
yang terkejut spontan memanggil reiatsunya. Reiatsu-reiatsunya
yang pekat digunakan sebagai perisai untuk bertahan. Namun siapa sangka, Platzen
menembus habis reiatsu Yhwach, membuat semua anak panah Ishida mengenai
telak tubuh Yhwach dan menjatuhkannya ke permukaan.
“Platzen... Aku masih belum
menguasainya, sangat berat untuk dikendalikan...” ucap Ishida melihat tangannya
yang terbakar karena menahan Heilig Bogen.
“Tch. Almighty langsung
menyembuhkan lukanya secara utuh. Mungkin memang hanya Kurosaki yang bisa
mengalahkannya.” Ishida melihat Yhwach yang sudah pulih dari serangannya tadi.
“Mengejutkan. Teruslah naikkan
ekspektasiku kepada kalian.” Yhwach kemudian semakin menambahkan reiatsu
pada pedang reishinya. Pedang tersebut semakin menghitam pekat dan
semakin membara akan reiatsu panasnya. Dengan sekali tebasan sudah
sangat pasti memberikan luka yang fatal.
“Melawanmu karena Antithesis
benar-benar merepotkan. Biar kupercepat kematianmu agar aku tidak bisa melihat
Antithesis dirimu lagi, Ishida.” Yhwach seketika menghilang dari pandangan.
Tidak dapat terdeteksi maupun pada reiatsunya.
“Takdirku adalah berada di
belakangmu.” lagi-lagi Yhwach muncul di belakang Ishida, menusuknya pada bagian
perut.
“Argh...! Yh-wach...!” Ishida
meringis kesakitan, kekuatan pedang reishi Yhwach terasa semakin berat
dan sakit untuk ditahan.
Yhwach
melepaskan tusukannya, langsung menebaskan pedangnya pada Ishida. Tanpa jeda,
Yhwach memunculkan sankt bogen dan menembakan heilig pfeil pada
Ishida, menusuk langsung dada Ishida dan menancapkannya ke tembok.
“Satu gugur. Kau akan mati
perlahan, sayangilah waktu hidupmu, Ishida Uryu.” Yhwach langsung menghilang
dari pandangan Ishida. Tidak sempat bagi Ishida untuk menukar lukanya.
Ichigo
yang baru saja dapat berdiri didatangi Yhwach dari belakang. Ichigo ditusuk
dalam posisi yang sama dengan Ishida, lalu ditebas dengan ayunan pedang reishi
Yhwach.
“Agh..! Sial...!” Ichigo berusaha
bertahan meskipun luka tebasannya cukup dalam. Badannya spontan memutar dan
melihat Yhwach yang sudah di belakangnya. Tangannya telah memegang Tensa
Zangetsu untuk menahan serangan apapun berikutnya dari Yhwach.
Yhwach
mengayunkan pedangnya untuk kedua kalinya. Dengan segala sisa kemampuan, Ichigo
menahan tebasan kedua Yhwach. Namun tenaga Ichigo yang sudah tidak banyak tidak
lagi dapat menahan serangan Yhwach, membuatnya terpental jauh lagi.
Mungkin
memang ini rencananya. Ichigo jauh dalam jangkauan pandang Ishida, membuat
Ishida tidak bisa menukar lukanya dengan Yhwach kembali. Untuk Antithesis dapat
bekerja, dibutuhkan penggunanya untuk melihat posisi target. Dengan berfikiran seperti
ini, Ichigo spontan lari ke arah Ishida yang sedang tertusuk membeku heilig
pfeil milik Yhwach di tembok. Jaraknya tidak terlalu jauh mengingat Ichigo
baru saja terpental oleh tebasan Yhwach kedua.
Seperti
yang disangka, Yhwach kembali berteleportasi ke dekat Ichigo. Tanpa aba-aba,
tangan Yhwach mencekik leher Ichigo, membuat Ichigo tidak dapat bergerak.
“Aku tidak menyangka kau akan
se-merepotkan ini, Ichigo.” ucap Yhwach.
“ISHIDA...!” teriak Ichigo
memberikan sinyal kepada Ishida untuk melakukan pertukaran luka kembali dengan
Yhwach.
“Tidak ada lagi teriakan yang akan
menolongmu... Sekarang nikmatilah perdamaian, Ichigo Kurosaki.” Yhwach
menyiapkan pedangnya untuk melubangi dada Ichigo, dan seketika-
*SRETT*
Yhwach
terkena luka yang diberikannya kepada Ishida. Tusukan, tebasan, dan luka heilig
pfeil menabrak Yhwach secara bersamaan. Serangan ini juga membuat
konsentrasi Yhwach hilang, menyebabkan pedang reishinya terpecah dan
melepaskan cekikkannya.
Ichigo melihat Yhwach yang melepas cekikkannya kemudian menghempaskan tebasan dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya.
“Getsuga-tensho...!” *JEBRET!* Gelombang getsuga menebas habis tubuh bagian kiri Yhwach. Melukainya cukup dalam. Sayangnya karena kondisi Ichigo yang melemah, tebasan terakhirnya tidak memberikan luka yang fatal kepada Yhwach, membuat Yhwach masih bisa tersadarkan diri.
“Antithesis Ishida...! Tapi bagaimana...?
Lingkup Antithesis hanya ketika dilihat oleh penggunanya...” ucap Yhwach terpental
ke belakang, terluka berat karena Antithesis dan Getsugatensho.
“Laju mundurku cukup jauh hingga
mengenai titik visual Ishida. Beruntung teriakanku didengar olehnya.” jawab
Ichigo yang setengah sekarat.
Kemudian
Ishida datang menghampiri Ichigo. Tubuhnnya kembali pulih karena dia menukarkan
lukanya dengan Yhwach.
“Kurosaki, apa sudah berakhir?”
tanya Ishida.
“Belum. Getsuga terakhirku
hanya menghabisi setengah badannya. Dia masih bisa meregenerasi.” jawab Ichigo.
“Kau terlihat sangat kelelahan,
Kurosaki. Tapi aku membutuhkanmu untuk rencana terakhirku.” ucap Ishida.
Ishida
kemudian memanggil Ichigo untuk mendekat, membahas rencananya. Dalam rencananya
Ishida meminta Ichigo untuk menebas Yhwach satu kali terakhir dengan getsugatensho
miliknya.
“Aku masih bisa maju sekali lagi.
Percayakan padaku.” ucap Ichigo telah diberitahu rencana Ishida barusan.
“Berhati-hatilah. Dia tidak akan
sama dengan yang sebelumnya.” ucap Ishida.
Yhwach
yang terkena serangan Ichigo butuh beberapa waktu untuk memulihkan dirinya.
Dikarenakan tebasan bankai Ichigo yang menetralisir Almighty, regenerasi
diri Yhwach tidak seinstan seperti biasanya, membuat dirinya lemah untuk beberapa
saat.
Melihat
kondisi Yhwach, Ichigo dan Ishida sama-sama berfikir kalau saat ini adalah saat
yang tepat untuk menjalankan rencananya. Di saat yang bersamaan pula, Ichigo
dan Ishida langsung melesat ke arah Yhwach yang sedang terluka. Ichigo
mempersiapkan getsugatensho terakhirnya, sedangkan Ishida berusaha untuk
memancing Yhwach terlebih dahulu dengan Licht Regen.
Ratusan
panah ditembakkan ke arah Yhwach, beruntun dan dari segala arah. Yhwach yang
masih memulihkan diri kemudian menutup dirinya dengan reiatsu, bertahan
dari segala anak panah Ishida.
“Aku akan membuat pembukaan dari
arahmu, Ichigo! Persiapkan dirimu!” Ishida kemudian berpindah dan menembakkan Licht
Regen Platzen pada bagian depan Yhwach, melemahkan pertahanannya untuk
membuat jalan kepada Ichigo.
Pertahanan
reiatsu Yhwach hancur karena tidak kuat menahan licht regen platzen,
membuat posisi Yhwach terbuka lebar untuk tebasan getsugatensho Ichigo.
“Getsugatensho...!” Ichigo
menghempaskan getsugatensho ke arah Yhwach yang terbuka pertahanannya.
Dengan kondisi Yhwach yang sedang memulihkan diri, Ichigo yakin getsuga akan
melukainya.
Namun
Yhwach kemudian tertawa dan berkata-
“Apa ini usaha terakhir kalian...?”
Yhwach mengumpulkan reiatsunya dan menahan getsugatensho terakhir
Ichigo. Dalam sekali tabrakan, getsuga terpecah. Tidak menghasilkan
apapun.
Ichigo
terkejut. Dia tidak percaya Yhwach masih bisa bangkit dengan cidera yang
lumayan dalam. Namun tidak ada waktu untuk memikirkan itu lagi, Ichigo yang
sudah tidak memiliki kekuatan apapun lagi, kemudian tidak sadarkan diri dan
tergeletak di tanah.
“Kurosaki...!” Ishida menghampiri
Ichigo yang telah tak sadarkan diri.
“Kau sudah tidak mampu bertarung,
Ichigo. Kalian berdua telah menyia-nyiakan kesempatan untuk membunuhku dengan
benar. Sangat disayangkan.” Yhwach terbangun dan mengangkat tangannya. Seketika
reiatsu miliknya menyelimuti kaki Ichigo dan Ishida dari bawah tanah,
membuat mereka tidak bisa bergerak sedikitpun.
“Sial! Ini reiatsu
miliknya...!” ucap Ishida yang terikat dengan tanah, tidak bisa keluar.
“Kurasa ini akhir dari kalian
berdua. Aku tidak kecewa terhadap perkembangan kalian, benar-benar pantas
menjadi penghalang terakhirku untuk membentuk perdamaian. Tenang saja. Akan
kubuat kematian kalian cepat.” Yhwach menghampiri Ichigo dan Ishida dengan banyak
gumpalan reiatsunya mengelilingi Yhwach, bersiap membakar habis Ichigo
dan Ishida rata dengan tanah.
“Reiatsu ini!? Dia menyerap
kekuatanku!?” Kekuatan Ishida terserap oleh reiatsu Yhwach. Memang,
selain membakar musuhnya, reiatsu Yhwach juga bisa menyerap kekuatan
yang diserangnya. Mereka menyedot habis reiatsu musuh dan
meninggalkannya membusuk.
“Benar-benar keistimewaan, kalian
berdua. Biarkan reiatsuku mengambil apa yang juga milikku, Ichigo
Kurosaki. Ishida Uryu.
Ishida
berpasrah. Tidak ada lagi yang dapat dilakukannya, tidak lagi ada peluang.
Begitu juga dengan Ichigo yang gagal melemparkan serangan terakhirnya ke
Yhwach. Mereka berdua terlihat sangat kecewa, tanpa sepatah kata pun kecewa
dengan dirinya masing-masing.
(Maafkan aku, Sado. Maafkan aku,
Rukia. Maafkan aku, Inoue.) Ichigo berpasrah. Dia sudah tidak memiliki energi
apapun lagi untuk berdiri.
“Ku-kurosaki...” Ishida ikut lemas.
Reiatsu Yhwach yang mengikat kaki mereka menyerap kekuatan. Membuat
Ishida semakin lama tidak dapat bertahan, kemudian ikut tidak sadarkan diri.
“Inilah... Tuhan.” *WUUSH*
gelombang reiatsu Yhwach menghampiri Ichigo dan Ishida yang berbaring
lesu tidak sadarkan diri. Sekali terselimuti oleh jutaan reiatsunya,
maka berakhir segalanya.
“Bakudo No. 81, Danku.” *JDER!*
Perisai putih muncul di hadapan Ichigo dan Ishida, menahan gelombang reiatsu
yang akan mengenai Ichigo dan Ishida.
“Sangat menghibur... Mendengar kata
tuhan dari dirimu, Yhwach.” Sesorang muncul di hadapan Yhwach. Menggagalkan
usahanya untuk membunuh Ichigo dan Ishida. Orang ini menggunakan Bakudo untuk
menahan gelombang reiatsu Yhwach yang akan menyerap kekuatan Ichigo dan
Ishida. Dengan satu cahaya terakhir, Ichigo dan Ishida memiliki kesempatan lain
untuk mengalahkan Yhwach.
Komentar